Nur Aini Rakhmawati Gunawan, Srikandi Open Source Indonesia

Wawancara Oleh : Rayyan Rahmi Isda

Eksklusif untuk Blog https://tanyarezaervani.wordpress.com

Umumnya, para penggiat Open Source berasal dari kalangan laki-laki, hanya sebagian kecil dari kalangan wanita apalagi akhwat yang mau menekuni bidang ini, salah satunya adalah NUR AINI RAKHMAWATI GUNAWAN. Beliau berasal dari Pasuruan, kelahiran tahun 1982. Ibu dari satu anak ini telah menempuh studi sampai tingkat S3 di Irlandia, berprofesi sebagai dosen tetap Jurusan Sistem Informasi di Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Surabaya.

Beliau merupakan pendiri Kelompok Linux Cewek Indonesia, sering disebut dengan singkatan KLUWEK. Beliau juga telah menghasilkan karya berupa aplikasi Open Source yang dinamai Keyrani, sebuah aplikasi informasi masa kehamilan dan tumbuh kembang anak yang berbasis Android. Nama Keyrani tersebut diambil dari nama anaknya yang bernama Syifa Aisha Keyrani Gunawan. Lebih lanjut mengenai aplikasi ini dapat dilihat pada blog beliau di www.ai23.wordpress.com/keyrani . Beliau juga telah mendapat penghargaan tingkat International http://anitaborg.org/initiatives/systers/pass-it-on-grants-program/spring-2011-systers-pass-it-on-award-winners/

Beberapa hari yang lalu saya telah mewawancarai beliau via online. Berikut petikan wawancaranya :

Sangat menarik sekali ada aplikasi Keyrani yang berbasis Android, sampai saat ini bagaimana feed back dari masyarakat dan apa harapan Ibu ke depannya tentang aplikasi ini ?

Alhamdulillah bagus, terbukti sudah didownload lebih dari 200 kali. Keyrani bisa dikembangkan lebih lanjut fitur-fiturnya dan bisa membantu pemerintah mengetahui kondisi kesehatan ibu dan anak. Saya masih berencana mengembangkan Keyrani ke arah Linked Open Data (LOD). Open data yang dimaksud disini adalah bagaimana data tersebut didistribusikan secara bebas dan digunakan kembali (reusing data) untuk aplikasi lainnya sehingga tercipta gerakan Linked Open Data.

Untuk lebih lanjut bisa dilihat di

http://www.w3.org/wiki/SweoIG/TaskForces/CommunityProjects/LinkingOpenData

Dengan LOD, Keyrani menjadi pioner era transparasi data masyarakat yang pada akhirnya pun bisa mengurangi korupsi. Namun keterbatasan waktu dan beasiswa yang saya miliki, saya akan pending dulu hingga thesis saya selesai.

Ibu membuat aplikasi ini berbasis Android karena mudah dibawa kemana-mana dan dapat digunakan di tempat terpencil. Tapi sebagian besar masyarakat saat ini masih menggunakan HP yang berbasis Symbian dan Java, bagaimana tanggapan Ibu akan hal ini ?

Itu sudah saya perhitungkan di awal pembuatan. Saya melihat ponsel Android sudah bisa dibeli dengan harga yang cukup murah. Namun tidak menutup kemungkinan saya akan mengembangkan ke basis Java atau Mobile Web.

Adakah rencana ke depan untuk membuat aplikasi lainnya ?

Tentu saja banya sekai ide di benak saya. Saya senang sekali mengeksplorasi teknologi baru dan menggunakan teknologi itu agar bisa berguna untuk masyarakat.

Bagaimana menurut pendapat Ibu tentang masa depan perkembangan Open Source di Indonesia?

Saya salut dengan keberanian dari developer-developer Indonesia untuk mengembangkan software buatan anak negeri sendiri seperti BlankOn, DaunSalam, AhadPos, dan lainnya. Berharap makin banyak lagi ide untuk mengembangkan software-software OSS yang berguna untuk masyarakat. Jangan sampai kita hanya sebagai user saja. Dan saya juga yakin, orang Indonesia juga mempunyai kemampuan untuk Go International mempublikasikan karya Open Source nya ke luar. Mungkin karena pola pengembangan dan bisnis OSS aja yang kurang dipahami sehingga mereka kurang berani.

Bagaimana perkembangan IT di Irlandia dibandingkan Indonesia ?  Termasuk di bidang Open Source nya.

Hampir semua riset di Eropa, hasilnya di-opensource-kan. Itu yang tidak saya jumpai di Indonesia, berbagai karya skripsi/thesis di Indonesia jarang bisa diakses secara terbuka oleh masyarakat. Sangat disayangkan jika hasil-hasilnya hanya menjadi sebuah buku di perpustakaan.

Bagaimana dukungan suami Ibu yang berlatangbelakang bidang hukum terhadap kreativitas Ibu di bidang IT ini ?

Alhamdulillah suami saya sangat mendukung segala aktivitas kegiatan saya selama tidak melupakan fungsi utama saya sebagai ibu. Saya selalu minta izin jika ingin ikut sesuatu meskipun suami berada di Indonesia, entah itu seminar, kompetisi, dan lainnya.
Suami saya kadang juga menjadi tester aplikasi yang saya buat. Kadang kami berpikir ingin membuat karya bersama yang menggabungkan IT dan Hukum. He he…

Saya melihat banyak teman-teman yang latar belakangnya non-IT tapi tertarik untuk belajar serius tentang IT termasuk juga sampai ingin bisa membuat aplikasi berbasis Android, adakah saran dari Ibu untuk mereka dan apakah mungkin untuk bisa dikuasai oleh orang yang Non-IT?

Belajar IT sekarang cukup mudah ketimbang masa saya dulu belajar. Karena informasi untuk belajar mudah kita dapatkan dari internet. Bingung? Tinggal Googling. Hampir semuanya ada jawabannya. Mungkin yang agak susah adalah algoritma. Namun untuk aplikasi-aplikasi sederhana, orang NON-IT pun muda untuk mempelajarinya. Selain internet, dukungan berbagai framework membuat aplikasi lebih cepat dan mudah sekarang.

Bu, ceritakan sedikit donk tentang perjalanan hidup Ibu dari kecil hingga saat ini bisa study abroad.

Saya tidak pernah mimpi kuliah sampai S3 apalagi di Luar Negeri. Saat sedang S1, pikiran saya adalah bagaimana bisa menjadi programmer. Alhamdulillah saya mendapat rezeki bisa S2 dan S3. Waktu kecil saya suka main daripada belajar. Saat sekolah SD sampai sengan S1 itu, saya tidak pernah mengorbankan waktu tidur untuk belajar sampai tidak tidur. Saya merasa sungguh-sungguh belajar itu waktu S2 di Taiwan, kadang-kadang bergadang. Namun kalau sudah belajar masalah teknologi IT yang baru, saya sangat suka…. Kadang lupa waktu.

Bagaimana pandangan Ibu tentang dunia pendidikan IT di sekolah-sekolah di Indonesia ? Apakah menurut Ibu sudah tepat atau belum ? Adakah masukan dari Ibu supaya ke depannya bisa lebih baik lagi ?

Wah, sekarang IT lebih maju di Indonesia, dari SD pun sudah diajari memakai komputer, tidak seperti zaman saya dulu🙂 Sebaiknya siswa diajarkan menggunakan aplikasi baik yang close maupun yang Open Source dan dibebaskan untuk memilih aplikasi yang ingin dipakai sehai-hari tanpa membajak.
Selain diajari dari segi teknis, alangkah baiknya diajarkan etika penggunaan dan pengembangan IT seperti masalah pembajakan, HAKI, berinternet secara sehat, dll.

Bu, minta nasehatnya donk buat para penggiat Open Source di Tanah Air tercinta ini, terutama buat para anak-anak mudanya.

Code is For Fun, Not For Fund, Fund is A Plus. Fun For Yourself and Society.
Ketika awal membuat sebuah karya OSS, berpikirlah kesenangan ketika karya itu tercipta. Setelah itu berpikirlah kesenangan orang lain saat karya itu dibagi ke mereka. Baru berpikir bisnis yang mungkin bisa diciptakan dari karya tersebut tanpa mengurangi kebahagiaan orang lain.

Wawancara Oleh : Rayyan Rahmi Isda untuk Blog https://tanyarezaervani.wordpress.com