Tiap Pagi Bersama Stallman

Oleh : Reza Ervani

Ya, tiap pagi bersama Richard Stallman.

Nyaris pas setiap pukul 06.00 pagi [yang berarti pukul 23.00 malam UTC] penulis menerima balasan email dari Richard Stallman, biasanya satu email, tapi adakalanya dua email jika dia ingin menambah penjelasan sesuatu dari email sebelumnya. Beberapa kali balasan bahkan penulis terima dalam Bahasa Indonesia, walau seringkali terdengar lucu karena rancu.

Yang tidak pernah penulis sangka sebelumnya, adalah betapa telitinya dia membaca setiap bagian dari email yang penulis kirimkan, apalagi jika email itu berisi terjemahan atas artikel yang ia buat. Membahas dan memberikan saran atas bagian-bagian itu, bahkan memberitahukan perubahan yang baru saja yang ia buat pada artikel aslinya. Mengingat kesibukannya, ini mungkin sedikit di luar dugaan.

Tapi tulisan ini bukan hendak membahas hal itu. Yang ingin penulis sampaikan adalah tentang budaya meng-“kaji”

Dahulu penulis pun sempat melakukan korespondensi dengan beberapa akademisi luar. Yang “enak” adalah mereka biasanya akan berupaya melayani kita habis-habisan ketika kita meminta penjelasan tentang sesuatu yang memang menjadi bidang mereka.

Masih ingat betul ketika jurnal IEEE yang di Indonesia “ternyata” harus dibeli dengan harga 250 ribu per judul dapat penulis peroleh dengan gratis (dalam bentuk cetak) langsung dari akademisi yang menyusunnya. Mereka rela mengirimkan fotokopi jurnal itu – bukan hanya satu tapi empat jurnal sekaligus – ke kampus yang notabene berada di negara yang berbeda dengan negara dimana mereka berasal.

Sangat kontras jika kita bandingkan – misalnya – dengan betapa sulitnya seorang mahasiswa Indonesia “dalam negeri” bertemu dengan dosen pembimbing yang berada di kampusnya sendiri. Alasannya klise, sang dosen sibuk. Bahkan beberapa dosen menolak bimbingan via email dengan beragam alasan.

Kalaupun bertemu, itupun hanya sebentar dan lebih merupakan pertemuan formal “setor muka”. Tidak ada yang baru yang bisa didapatkan oleh mahasiswa setelah bertemu dengan sang dosen.

Hal positif lain yang penulis dapati dari diskusi dengan akademisi luar adalah keterbukaan mereka terhadap diskusi atau bahkan kritik atas pemikiran mereka. Argumentasi yang mengalir pun jauh dari kesan emosi, sehingga alur pemikirannya bisa kita tangkap dengan jernih dan jelas.

Bandingkan misalnya dengan keluhan mahasiswa yang takut nilainya E karena mendebat dosen di ruang kelas. Jadilah para pelajar kita lebih memilih pasif dan malu bertanya, daripada nilainya anjlok semua. Anehnya, jangan tanya betapa sangarnya para mahasiswa ini ketika melakukan orasi di demo massa …šŸ™‚

***

Budaya …

Mungkin itulah yang membedakan kita di Indonesia dengan mereka di sana.

Di negara ini budaya menonton lebih dominan daripada budaya membaca.

Di negara ini budaya menulis kalah dengan budaya bicara.

Korespondensi yang dicontohkan oleh tokoh-tokoh bangsa seperti Bung Karno, Bung Hatta, Natsir, Buya Hamka, A. Hasan, dll di masa lalu, kini tidak lagi jadi budaya di pelajar kita, padahal fasilitas email tersedia dengan sangat mudahnya. Kita terbiasa dengan pesan pendek semacam SMS dan status facebook, dibandingkan menulis berpanjang lebar memaparkan dan mendiskusikan ide.

Efeknya adalah kita menjadi cenderung reaktif. Bertindak dengan lebih mengedepankan emosi daripada nalar. Lebih senang berdebat daripada berdiskusi. Relatif lebih cepat marah ketika dibantah. Dan lebih ironis, justru itulah pula yang sering dipertontonkan oleh para akademisi kita (apatah lagi para politisi).

***

Ya, Tiap pagi dengan Stallman menyentil penulis untuk menyampaikan hal ini. Sebagai penggugah semangat diri sendiri untuk terus belajar dan meng”kaji”. Berupaya memahami tiap detil dari bidang yang digeluti.

Semoga Allah Ta’ala membukakan pintu pengetahuanNya.

Amin.