Menghitung Waktu Sholat

Sumber : prayertime.org

Terjemah Bebas oleh : Pengelola Blog https://tanyarezaervani.wordpress.com

Tabel Waktu dalam Islam dapat digambarkan dalam tabel berikut :

Waktu Definisi
Imsak Waktu untuk berhenti makan sahur (saat puasa) beberapa saat sebelum Fajar
Fajar Saat langit mulai terlhat terang.
Matahari Terbit Waktu saat matahari mulai menampakkan dirinya diatas horison.
Zhuhur Ketika matahari mulai turun setelah mencapai puncak tertingginya di langit
Ashar Waktu ketika panjang dari bayangan objek mencapai suatu faktor (biasanya 1 atau 2) dari panjang objek tersebut ditambah panjang dari bayangan objek tersebut pada tengah hari.
Matahari Tenggelam Waktu saat matahari menghilang dibawah horison.
Maghrib Setelah matahari tenggelam.
Isya Waktu ketika kegelapan sudah mulai menyelimuti dan tidak ada lagi cahaya matahari di langit.
Tengah Malam Waktu pertengahan dari matahari tenggelam ke matahari terbit (atau dari Maghrib ke Fajar)

Pengukuran Astronomi

Ada dua pengukuran astronomi yang penting untuk penghitungan waktu sholat. Dua pengukuran ini adalah Persamaan Waktu (equation of time) dan Deklinasi matahari.

Persamaan waktu adalah perbedaan antara waktu yang dibaca dari jam matahari dengan jam biasa. Nilai yang muncul berasal  dari pergerakan matahari yang tidak teratur yang tampak disebabkan oleh kombinasi sumbu rotasi bumi dan eksentrisitas dari orbitnya. Sebuah jam matahari dapat lebih cepat sekitar 16 menit 33 detik (pada sekitar tanggal 3 November) atau lebih lambat sekitar 14 menit 6 detik (pada sekitar tanggal 12 Februari) sebagaimana ditunjukkan pada grafik berikut ini :

Deklinasi matahari adalah sudut antara sinar matahari dan permukaan bumi pada garis katulistiwa. Deklinasi matahari berubah secara teratur sepanjang tahun. Ini merupakan konsekuensi dari kemiringan bumi, yakni perbedaan antara sumbu rotasi dan revolusi bumi.

Pengukuran astronomi diatas dapat diamati secara akurat dari Almanak Bintang, atau dapat dihitung dengan pendekatan tertentu. Berikut adalah algoritma dari U.S. Naval Observatory untuk menghitung koordinat sudut matahari dengan akurasi sekitar 1  arcminute dalam waktu dua abad terakhir :

d = jd - 2451545.0; // Jd adalah Penanggalan Julian  g = 357.529 + 0.98560028* d;
 q = 280.459 + 0.98564736* d;
 L = q + 1.915* sin(g) + 0.020* sin(2*g);
R = 1.00014 - 0.01671* cos(g) - 0.00014* cos(2*g);
 e = 23.439 - 0.00000036* d;
 RA = arctan2(cos(e)* sin(L), cos(L))/ 15;
D = arcsin(sin(e)* sin(L)); // Deklinasi Matahari
 EqT = q/15 - RA; // equation of time

Menghitung Waktu Sholat

Untuk menghitung waktu sholat di tempat tertentu, kita perlu mengetahui latitude [L] dan longitude (Lnd) dari lokasi tersebut, serta Local Time Zone untuk lokasi bersangkutan. Kita juga mengamati equation of time (EqT) dan deklinasi matahari (D) untuk tanggal yang ada menggunakan algoritma yang disebutkan sebelumnya.

Zhuhur

Zhuhur dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut :

Dhuhr = 12 + TimeZone - Lng/15 - EqT.

Formula diatas menghitung waktu tengah hari, ketika matahari mencapai titik tertinggi di langit. Sebuah margin pergeseran biasanya masuk ke dalam pertimbangan untuk waktu Zhuhur sebagaimana dijelaskan dalam catatan ini.

Matahari Terbit dan Matahari Tenggelam

Perbedaan antara waktu tengah hari dan waktu saat matahari mencapai sudut α dibawah horison dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut :


Matahari Terbit dan Tenggelan secara astronomis terjadi pada saat α=0. Namun, dikarenakan adanya pembiasaan cahaya pada wilayah atmosfer, matahari terbit sesungguhnya bergeser ke waktu sebelum perhitungan astronomis dan matahari tenggelam bergeser ke waktu setelah yang diperoleh dari perhitungan astronomis. Waktu matahari terbit dan tenggelam sesungguhnya dapat dihitung dengan rumus berikut :

Matahari Terbit = Zhuhur - T(0.833),
 Matahari Tenggelam = Zhuhur + T(0.833).

Jika lokasi pengamat lebih tinggi dari daerah sekitarnya, kita dapat mempertimbangkan sudut ini dengan menambah konstanta 0,833 diatas dengan 0.0347 × sqrt(h), dimana h adalah tinggi tempat pengamatan dalam satuan meter.

Fajar dan Isya

Ada beberapa pendapat berbeda tentang sudut yang digunakan untuk menghitung Fajar dan Isya. Tabel berikut menunjukkan beberapa konvensi yang digunakan di berbagai negara (Informasi lebih lengkap silahkan kunjungi halaman ini).

Konvensi Sudut Fajar Sudut Isya
Muslim World League 18 17
Islamic Society of North America (ISNA) 15 15
Egyptian General Authority of Survey 19.5 17.5
Umm al-Qura University, Makkah 18.5 90 min Setelah Maghrib
120 min selama Ramadan
University of Islamic Sciences, Karachi 18 18
Institute of Geophysics, University of Tehran 17.7 14*
Shia Ithna Ashari, Leva Research Institute, Qum 16 14

* Sudut Isya tidak dijelaskan secara explisit di metode Tehran

Sebagai contoh, menurut konvensi Muslim World League, Fajar = Zhuhur – T(18) dan Isya = Zhuhur + T(17).

Ashar

Ada dua pendapat utama tentang cara menghitung waktu Ashar. Mayoritas ulama (termasuk Syafi’i, Maliki, Ja’fari dan Hambali) mengatakan bahwa waktunya adalah ketika panjang bayangan objek sama dengan panjang dari objek itu sendiri ditambah panjang bayangannya saat tengah hari. Pendapat dominan di kalangan Ulama Hanafi mengatakan bahwa waktu Ashar dimulai ketika panjang dari sebuah objek adalah dua kali panjang dari objek tersebut ditambah dengan panjang bayangan objek tersebut saat tengah hari.

Rumus berikut menghitung perbedaan waktu antara tengah hari dengan waktu dimana bayangan objek sama dengan t kali panjang objek itu sendiri ditambah panjang bayangan objek saat tengah hari :


Maghrib

Dalam pandangan Sunni, waktu untuk sholat Maghrib dimulai saat matahari telah tenggelam total di horison, jadi, Maghrib = Matahari Tenggela (beberapa perhitungan menyarankan 1 hingga 3 menit setelah matahari tenggelam untuk berhati-hati). Dalam pandangan Syiah, pendapat yang dominan adalah bahwa selama langit masih berwarna merah setelah matahari terbenam, sholat maghrib belumlah bisa dimulai. Biasanya yang dimasukkan ke dalam pertimbangan perhitungan adalah dengan memasukkan sudut senja dengan Maghrib = Zhuhur + T(4).

Tengah Malam

Tengah malam umumnya dihitung sebagai pertengahan dari Matahari Terbenam dengan Matahari Terbit, jadi Tengah Malam = 1/2(Waktu Matahari Terbenam – Waktu Matahari Terbit). Dalam pandangan Syiah, waktu tengah malam secara yuridis (batas waktu melaksanakan sholat Isya) adalah nilai tengah dari Matahari Terbenam hingga Fajar jadi Tengah Malam = 1/2(Fajar – Matahari Terbenam).

Latitude yang Lebih Tinggi

Di lokasi dengan latitude lebih tinggi, senja dapat berlangsung sepanjang malam selama beberapa bulan dalam setahun. Pada periode abnormal ini, penentuan waktu Fajar dan Isya adalah tidak mungkin dilakukan dengan formula biasa yang disebutkan dalam bagian sebelumnya. Untuk memecahkan masalah ini, ada beberapa solusi yang dimajukan, tiga diantaranya adalah :

Pertengahan malam
Dalam metode ini, peridoe matahari terbenam dan matahari terbit dibagi menjadi dua bagian yang sama. Bagian pertama dianggap sebagai “malam” dan bagian lain sebagai “jeda hari”. Fajar dan Isya dalam metode ini diasumsikan ada di tengah malam sepanjang periode abnormal.
.
Sepertujuh Malam
Dalam metode ini, periode antara matahari terbenam dengan matahari terbit dibagi menjadi tujuh. Isya dimulai setelah sepertujuh malam pertama berakhir, dan waktu Fajar adalah pada awal bagian sepertujuh yang akhir.
.
Metode berbasis Sudut.
Ini adalah solusi pertengahan yang digunakan pada beberapa perhitungan waktu sholat saat ini. Anggap  α adalah sudut senja untuk Isya dan kita berikan nilai  t = α/60. Periode antara matahari tenggelam dan matahari terbit dibagi manjadi t bagian. Isya dimulai setelah bagian pertama. Sebagai contoh, jika sudut senja untuk Isya adalah 15, maka Isya dimulai pada akhir dari bagian 15/60 malam yang pertama. Begitu juga cara penghitungan waktu Fajar.
.

Dalam kasus Maghrib tidak sama dengan matahari Terbenam, kita dapat menerapkan pula aturan diatas ke Maghrib untuk memastikan bahwa Maghrib selalu ada di antara waktu Matahari Terbenam dan Isya selama periode Abnormal.

Maha Suci Allah (rezaervani@gmail.com)