Celebrating the 100th article

Open Source, Adrenalin Menulis & Wajah Baru Pengetahuan

Oleh : Reza Ervani

Pengelola Blog https://tanyarezaervani.wordpress.com

Alhamdulillah, belum genap 1 bulan usia Blog ini, sudah lebih dari 100 tulisan yang dibuat oleh pengelola. Masih banyak lagi draft yang sudah ada dan harus dirapihkan sebelum bisa dipublikasi. Begitu banyak lagi tema yang bisa dibahas. Sebuah keajaiban yang penulis rasakan di dunia Open Source. Sebuah pencapaian yang mungkin tidak bisa dilakukan di dunia proprietary software. Jika dirata-ratakan, berarti sekitar 4 tulisan per hari yang dipublikasikan di blog ini.

Terlahir di tanggal 27 Maret 2011, hanya 5 (lima) hari yakni tanggal 9, 10, 11, 12, dan 13 April tidak ada tulisan yang dipublikasikan, karena di tanggal tersebut penulis sedang bertugas ke Pulau Bangka.

Betapa tidak, filosofi “Terbuka untuk Dibedah” yang dianut perangkat Lunak Open Source membuat begitu banyak pengetahuan baru yang bisa kita gali darinya. Ditambah begitu banyaknya informasi dalam berbagai bahasa di Internet dengan indeksasi raksasa ala Google dan Wikipedia, membuat pengetahuan begitu menggoda untuk dituliskan.

Setiap hari ada saja pertanyaan yang menggelitik untuk dibedah, dicarikan solusinya, mendorong untuk membaca lebih banyak, dan kemudian menuliskannya. Ketika ditulis, muncul pula begitu banyak pertanyaan baru yang menarik untuk dikaji lebih jauh. Bahkan setelah menulis, godaan untuk terus menyempurnakan, melanjutkan dengan seri terbaru terus bergejolak. Adrenalin kepenulisan mengalir cepat di setiap kata yang dirangkaikan.

Budaya Membaca dan Menulis sesungguhnya semakin terbuka lewat filosofi Open Source ini. Bahwa pengetahuan bukan buat dirahasiakan, tapi buat dibagikan, adalah nasehat lama yang sesungguhnya sudah diajarkan oleh para pendahulu. Imam Ali bin Abi Thalib karamallahu wajha memberikan petuah “Semakin dibagikan, Semakin Bertambah Ilmu”.

Budaya Membaca sebagai pintu pertama pengetahuan juga semakin terfasilitasi di era Open Source. Bayangkan jika kita harus membayar untuk fasilitas Google, bayangkan jika kita harus membayar untuk membaca Wikipedia, tentu tidak secepat saat ini proses pembelajaran yang bisa kita lakukan.

Bertambahnya pengetahuan juga secara tidak langsung mungkin dapat meningkatkan pula aspek kehidupan lainnya, termasuk aspek ekonomi dan budaya. Jika ini terjadi, maka sebuah proses pendidikan sedang berlangsung lewat filosofi Open Source ini.

Batas “kepakaran” semakin menipis. Seorang yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal pun, jika rajin membaca dan mengkaji beragam Sumber “Open Source” akan sampai pada tahap pengetahuan yang bahkan mungkin tidak pernah disangka oleh seorang “akademisi formal”. Seharusnya ini mampu mendorong kepercayaan diri para pemuda di negeri ini untuk berkarya tanpa harus peduli latar belakang sosialnya. Tidak perlu malu jika anda tidak pernah mendapatkan gelar Sarjana, karena belajar tidaklah terkait dengan gelar di belakang nama. Belajar adalah masalah semangat dan stamina.

Siapapun kini bisa menulis, mempublikasikan dan bahkan mendapatkan reward dari tulisannya. Bukankah ini juga filosofi Open Source. Anda tidak perlu meyakinkan penerbit tentang diri anda untuk bisa menyampaikan sesuatu. Lagi, sebuah keajaiban yang tidak terbayangkan bisa terjadi di iklim “Proprietary” dan “Lisensi”.

Terakhir, Filosofi Open Source ini seharusnya pula membawa kita semakin sadar, betapa kurangnya ilmu yang kita miliki, karena semakin banyak kita tahu, berarti semakin banyak pula yang kita tidak tahu. Senantiasa ada langit di atas langit. Seperti ucapan Malaikat Allah : “Subhanaka, La ‘ilmalana ila ma ‘alamtana” (Maha Suci Engkau, Tidak ada ilmu kami selain yang Engkau (Allah) ajarkan)”. Open Source dapat membawa kita kepada sifat kehambaan, kerendahan hati dan kesadaran betapa sedikitnya ilmu yang kita miliki. Robbana, ma khalaqta hadza bathilaan, Subhanaka, Faqiina ‘adzabannar.

Jadi apalagi alasan kita untuk tidak beralih ke Open Source ? (rezaervani@gmail.com)


Iklan